Kunjungan Camat Leuwidamar ke rumah keluarga Pra-Sejahtera
Leuwidamar, Lebak – Di tengah kesibukan sehari-hari, Camat Leuwidamar, H. Agung Nugraha, S.KM,.M.M., menyempatkan diri menyapa langsung warganya yang kurang mampu di wilayah Desa Lebakparahiang Kecamatan Leuwidamar, Selasa (12/5/2026). Kunjungan tersebut menyasar salah satu keluarga pra-sejahtera yang berprofesi sebagai pemulung, yakni pasangan suami istri Bapak Agus Nugraha dan Ibu Esih beserta dua orang anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah.
Menempati rumah semi permanen yang terbuat dari bilik bambu berukuran 4x5 meter tepat di pinggir sawah, kondisi rumah tersebut tampak memprihatinkan. Dinding bilik bambu yang lapuk dan atap rumbia yang bocor di beberapa bagian menjadi pemandangan yang menyentuh hati rombongan camat saat tiba sekitar pukul 14.00 WIB. Tumpukan barang bekas seperti botol plastik, kardus, dan besi tua terlihat rapi di samping rumah—hasil keringat pasangan pemulung yang setiap hari berkeliling kampung dengan gerobak tuanya.
"mengutip ucapan Camat bahwa beliau (pemulung.red) ini salah satu warga kami yang luar biasa. Beliau jujur, pekerja keras, dan tidak pernah mengeluh. Kami ingin memastikan bahwa pemerintah kecamatan hadir untuk mereka yang selama ini mungkin kurang tersentuh," ujar Camat Agung saat berbincang santai di belakang rumah bapak Agus tersebut.
Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut, Camat Agung didampingi Satpol PP Kecamatan Leuwidamar dan Petugas Damkar Kecamatan serta Ketua RT setempat. Mereka tidak hanya berdialog dan mendengar keluhan secara langsung, tetapi juga sekaligus memberikan bantuan beras yang berasal dari Bantuan Pemerintah.
Air mata haru tak bisa disembunyikan dari keluarga Bapak Agus dan Ibu Esih tersebut, saat menerima bantuan dan perhatian langsung dari camat. "Biasanya kami cuma lihat pak camat di spanduk. Sekarang beliau datang ke rumah, duduk di kursi reyot kami. Saya enggak nyangka," ucap beliau dengan suara bergetar.
Pasangan pemulung tersebut mengaku sehari-hari rata-rata hanya mendapat penghasilan Rp 30.000 hingga Rp 40.000 dari menjual barang rongsokan. Hasil itu digunakan untuk makan satu hari, biaya sekolah, serta mencicil utang di warung. "Terima kasih pak camat, saya cuma bisa berdoa semoga bapak sehat selalu. Kehadiran Bapak dan Bantuan beras ini sangat berarti untuk saya,".
Camat Agung menegaskan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial belaka. Pihaknya akan menindaklanjuti temuan di lapangan, seperti kondisi rumah yang tidak layak huni dan status kepemilikan lahan yang masih belum jelas. "Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Permukiman untuk program bedah rumah tidak layak huni, dengan Petugas PKH Kecamatan juga akan berkoordinasi agar keluarga tersebut mendapatkan bantuan Sosial. Juga dengan Dinas Pendidikan agar anak-anak beliau mendapatkan bantuan PIP (Program Indonesia Pintar)," jelasnya.
Menutup kunjungannya, Camat Agung berpesan kepada seluruh warganya agar tidak malu dengan profesi apa pun. "Menjadi pemulung bukan aib, asal dilakukan dengan jujur dan halal. Justru mereka pahlawan lingkungan. Tugas pemerintah adalah memastikan kesejahteraan mereka tetap terjaga," pesannya.
Kunjungan camat yang langsung turun ke lapangan mendapat apresiasi dari warga sekitar. Mereka berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan saat jelang Pilkada atau momen tertentu, tetapi menjadi budaya rutin birokrasi yang terus hadir untuk rakyat kecil.
(Info_Leuwidamar/Yaya A. Rohman)