Leuwidamar, Lebak – Sebanyak lebih dari 1.500 warga masyarakat adat Baduy kembali menggelar ritual tahunan Seba Baduy 2026 di pusat pemerintahan Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak. Puncak acara yang berlangsung pada 24-26 April 2026 ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi wadah penyampaian pesan moral yang mendalam kepada pemerintah, mulai dari kelestarian lingkungan hingga penolakan terhadap korupsi .
Perjalanan Panjang Taat Adat
Dalam pelaksanaan Seba 2026, terhitung sebanyak 1.580 warga Baduy turut serta. Mereka terbagi dalam rombongan Baduy Dalam (Baduy Dalam) dan Baduy Luar (Baduy Luar) . Sebanyak 60 warga dari kelompok Baduy Dalam memilih menjalani perjalanan sejauh 160 kilometer dari pedalaman Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, dengan berjalan kaki tanpa alas sepatu sebagai bentuk ketaatan terhadap pikukuh (hukum adat) yang melarang menggunakan kendaraan. Sementara peserta lainnya menggunakan 85 bus yang telah disediakan .
Sekretaris Desa Kanekes, Medi, menyatakan bahwa perjalanan ini dimulai sejak dini hari. "Masyarakat Baduy Dalam masih berpegang teguh pada adat istiadat dengan berjalan kaki ke mana pun dan dilarang menggunakan kendaraan," ujarnya di Lebak, Kamis (23/4) .
Upacara Adat di Pendopo dan Gedung Negara
Rangkaian Seba diawali dengan penyerahan hasil bumi kepada Penjabat Bupati Lebak di Pendopo Kabupaten Lebak pada malam tanggal 24 April 2026 . Romoian ini berlangsung khidmat dengan iring-iringan yang membawa hasil pertanian seperti pisang, ubi, madu, dan beras huma sebagai simbol rasa syukur .
Puncak acara berlangsung pada Sabtu (25/4) di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang. Rombongan Baduy disambut langsung oleh Gubernur Banten, Andra Soni, dalam prosesi adat yang disebut "Muka Panto" (membuka pintu), yang melambangkan dibukanya hati dan pikiran untuk menerima tamu kehormatan .
Menariknya, acara ini juga menarik perhatian internasional. Sejumlah duta besar negara sahabat, termasuk dari Iran, Suriah, dan Palestina, turut menyaksikan langsung prosesi adat tersebut sebagai bagian dari diplomasi budaya .
'Gunung Jangan Dihancurkan, Lembah Jangan Dirusak'
Lebih dari sekadar seremonial, Seba Baduy 2026 sarat akan pesan moral dan kritik sosial. Dalam pertemuan dengan Bupati Lebak, perwakilan Suku Baduy menyampaikan amanat leluhur yang menekankan persatuan bangsa serta peringatan tegas untuk tidak merusak alam dan menghindari korupsi .
Tokoh masyarakat Baduy, Jaro Oom, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kanekes, menegaskan falsafah hidup mereka. "Pesan kami di Seba tahun ini adalah 'Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak' (Gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak) . Kami titipkan tanah ulayat seluas 5.200 hektare ini untuk dijaga kelestariannya," tegasnya di hadapan para pejabat .
Selain isu lingkungan, Kabid Kebudayaan Disbudpar Lebak mengakui bahwa masyarakat Baduy hidup dalam kedamaian tanpa perpecahan. Hal ini diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat luas di tengah situasi politik nasional .
Harapan Pemda dan Kelestarian Budaya
Gubernur Banten, Andra Soni, dalam sambutannya menyatakan bahwa Seba adalah pengingat bagi semua pihak akan pentingnya keseimbangan alam. "Seba Baduy bukan sekadar seremonial, tetapi momentum penting untuk memperkuat silaturahmi. Kami berkomitmen untuk melindungi hak ulayat masyarakat adat Baduy," ujar Andra di hadapan rombongan .
Pemerintah Kabupaten Lebak juga menyebut Seba 2026 sebagai ikon wisata budaya yang memperkuat persatuan. Kegiatan ini berlangsung lancar dengan pengamanan ketat dari pihak kepolisian yang melakukan rekayasa lalu lintas di ruas jalan yang dilalui rombongan pejalan kaki .